Sunday, December 25, 2011

Cerita Tentang Kerapuhan Manusia



Zaman yang kian pragmatis dan individualistis mengusik Teater Pas mementaskan lakon Manusia Kardus dalam Masyarakat Balon. Sebuah refleksi tentang makna hidup yang semakin sumir.

Di pusat panggung yang hening dan setengah redup, dua orang aktor, yaitu pertama diperankan oleh Ozi dan yang lain diperankan oleh Iwan K, secara lambat masuk menyeret sebuah sarung. Sementara seorang lagi datang dari balik punggung penonton, berteriak sambil membawa segelembung balon.

Tak lama setelah lalu lalang aktivitas ketiga aktor tersebut, Jocker (diperankan oleh Rudi Masinambouw) menyelinap masuk dari sudut panggung dan berteriak. "Aku bisa menjelma menjadi apa saja, bisa menjadi hujan yang sesekali mengguyur tubuhmu atau menyelinap dengan hening ke dalam penderitaan hidupmu. Aku juga boleh menjadi secangkir kopi panas yang kau teguk di beranda rumahmu, terkadang juga bisa menjadi alkohol yang memabukkan semua mimpi-mimpimu. Aku ada di mana-mana dan mungkin ada dalam pikiranmu. Balon-balon itu harus bergelembung di kepala kalian. Orang-orang batu ini telah kehilangan nuraninya, pergi ke pasar-pasar derita sambil menjajakan rujak-rujak kehidupan yang pura-pura."

Tak lama panggung redup dan hening seketika. Dari arah yang berbeda, tiga orang berjalan sembarang. Di kepala mereka tersangkut kursi plastik berwarna putih, yang kemudian dijadikan tempat duduk untuk membaca koran yang terserak di atas panggung. "Menang....menang.. tapi kalah..Hey, everybody, listen to me. Aku ini manusia pragmatis, karena aku manusia pragmatis, aku selalu mengutamakan kepentingan pribadiku. Manusia pragmatis adalah manusia yang selalu bertindak taktis. Kalian harus tahu master plan-nya, yaitu manusia-manusia pragmatis," ucap salah seorang dari mereka. Selain menggunakan tiga bahasa, seperti bahasa Indonesia, bahasa gaul (bahasa anak masa kini) serta bahasa Inggris, tak jarang mereka juga menggunakan bahasa tubuh untuk saling berbincang.

Beberapa waktu kemudian, Jocker muncul dan berkata. "Mereka menyanyi tapi juga menangis dengan kursi-kursi plastik mereka. Berubah, semuanya berubah, tidak bisa lagi. Mereka betah dengan materi dan uang. Kenapa jadi benda yang menggerakkan manusia. Pernahkah kalian mengamati diri, bahwa ada dia dalam diri Anda, baca dan kenali. Lihat...lihatlah dalam diri Anda. Ini dunia luka, di mana wajah telah kubungkus dengan harapan, tanpa mau peduli arti luka hati. Ya, ini dunia lupa dalam tegas telah menangkap balon-balon yang tak mau lagi kembali ke bumi. Melambung...melambung..."

Demikianlah secuplik adegan serta dialog yang ditampilkan oleh Teater Pas bekerjasama dengan UKM teater Genta UNAS, dalam pertunjukan, Manusia Kardus dalam Masyarakat Balon. Naskah ini ditampilkan di Aula blok 1, Universitas Nasional (UNAS), pada Selasa 20 Desember 2011. Pertunjukan tersebut sebelumnya pernah dipementasan di Yogyakarta dan Kudus, dan akan dipentaskan kembali di Tasikmalaya, Kampus UNJ dan Universitas Islam Jakarta, serta beberapa kota lainnya.

Zaman Pragmatis
Pertunjukan Manusia Kardus dalam Masyarakat Balon mencerminkan zaman pragmatis dan individualistik manusia, yang kemudian membuat mereka menjadi rapuh dan mudah dipatahkan. Manusia kini semakin individualistik. Lebih mementingkan diri sendiri dan tak ubahnya batu dalam kardus atau meminjam dialog dalam pertunjukan ini "serupa balon yang melambung."

Dari segi tema, naskah ini menarik. Namun sayang belum ditunjang dengan kemampuan akting yang memadai. Mungkin bisa dimaklumi karena sebagian merupakan pemain baru, bahkan ada yang baru mengenal teater secara utuh. Namun meskipun demikian, kegigihan dan keuletan para aktor dalam berlakon dan olah suara, menjadi salah satu hal pendukung dalam sebuah pementasan. Ada aktor yang berhasil menjadi tokoh yang diperankan, ada juga yang masih menjadi dirinya sendiri, belum bisa memainkan perannya secara utuh.

Saat diwawancara seusai pertunjukan, Rudi (sutradara dan penulis naskah), menjelaskan bahwa pertunjukan tersebut tak hanya mengangkat persoalan dalam pergaulan sehari-hari masyarakat. "Pergaulan sehari-hari yang hanya mempertanyakan persoalan yang bersifat materialistik, padahal mungkin ada persoalan-persoalan yang lebih esensial, misalnya persoalan dalam kehidupan. Nah, masalah-masalah kemanusiaan seperti inilah yang ingin kami sampaikan. Bahwa melihat teman jangan seperti kardus, jangan lihat luarnya saja, tapi lihat persoalan apa yang sedang digeluti dalam kehidupannya. Kami pikir, kalau itu bisa kita kembangkan, maka persoalannya akan beda lagi. Apa yang terjadi sekarang, seperti kekerasan terjadi di mana-mana, orang masih ada yang asyik pamer materi, itu yang ingin kami sampaikan. Sementara di dalam hidup mereka, bangunan mimpi-mimpi itu berbagai warna," tutur Rudi.

Mengenai keberadaan koran yang dijadikan salah satu kebutuhan panggung Rudi mengaitkan dengan tiga prinsip modernisme. "Saya pikir apa yang tidak bisa kita tolak, yaitu tiga prinsip modernism, globalisasi terjadi itu karena adanya transportasi, teknologi dan telekomunikasi informatika. Ini adalah yang menjadi salah satu bagian yang menyatukan dunia, sehingga kita tak lagi asing. Nah, yang menjadi masalah masyarakat sekarang ini berdiri di atas informasi tanpa mengadakan kajian ulang. Kalau saya mainkan koran di atas panggung, saya mau katakan bahwa bangsa kita memang sudah harus masuk ke peradaban global, informasi sudah sama dengan masyarakat di luar sana. Sekarang berita berserak di mana-mana, dan kita tidur di atas berita. Kita sibuk masuk ke dalam informasi yang padat itu tanpa melakukan saringan. Padahal kita tahu, ada media-media yang betul-betul menyajikan hal yang benar, dan ada media-media yang menurut saya agak sulit mencari kebenarannya," pungkas Rudi.frans ekodhanto

Sumber: http://koran-jakarta.com

No comments:

Post a Comment

Terimakasih telah membaca,

Semoga perjumpaan kali ini berkesan di hati sahabat-sahabat sekalian, silahkan diambil manfaatnya, serta dibawa pulang oleh-oleh pelajaran dan ilmunya. :)

Jika ingin meninggalkan jejak dan ingin mengirimkan komentar, Silahkan isi kotak komentar di bawah ini...