Welcome

Berawal dari ketiadaan, kita berpikir dan belajar untuk menciptakan. Membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik, lebih berarti dan lebih bermanfaat. "Mari berbagi manfaat" #Give thank to Allah, the Creator of all things.

Inspirasi Hari Ini


Saturday, September 24, 2011

Islamisasi Pendidikan Kampus, Sebuah Keharusan

ilustrasi kampus


Beberapa bulan lalu ada peristiwa penting yang tidak boleh dilewatkan para
pelaku dan peminat Pendidikan Islam.  Setelah  menggelar  Seminar
Internasional pada 18-19 Mei 2011, lalu Seminar Nasional  pada 29 Juni 2011,
tentang Tema yang sama, maka pada Hari Rabu, 20 Juli 2011, Universitas Ibn
Khaldun (UIKA) Bogor  menyelenggarakan Lokakarya “Islamisasi Ilmu dan
Kampus” untuk para pejabat Struktural kampus UIKA Bogor.

Lokakarya diikuti oleh seluruh pejabat struktural,  mulai Rektor , wakil
Rektor, sampai semua dekan dan para wakil dekan di UIKA. Lokakarya dibuka
oleh Rektor UIKA, Prof. Dr. Ramly Hutabarat.  Bertindak sebagai Keynote
speaker adalah Prof Dr Ir AM Saefuddin, dengan pemateri Dr. Adian Husaini
dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi.

Bagi UIKA, wacana Islamisasi Ilmu dan Kampus bukanlah hal yang baru.
Gerakan itu sudah diserukan oleh Prof AM Saefuddin saat dia menjadi rektor
UIKA tahun 1983.    Dalam paparannya, AM Saefuddin menekankan perlunya
konsep Islamisasi Ilmu dan Kampus diaplikasi kan dengan sungguh-sungguh
dalam kehidupan kampus. Bukan hanya dalam kurikulum, tetapi juga dalam
perilaku sivitas akademika dalam kehidupan kampus.

Dalam Lokakarya tersebut,  saya menyampaikan paparan tentang  perlunya UIKA
mengambil peluang melaksanakan Islamisasi Ilmu, sebab tuntutan umat Islam
sangat besar, akan terwujudnya satu kampus Islam yang benar-benar Islami dan
bermutu.  Banyak orang tua kini bertanya, setelah anaknya tamat di satu SMA
atau Madrasah Aliyah yang baik, ke mana anaknya harus melanjutkan kuliah.
Mereka ingin agar anaknya benar-benar menjadi sarjana yang baik, yakni
memiliki pemahaman Islam yang benar, bebas dari pengaruh liberal, dan
memiliki keahlian tertentu yang diperlukan untuk mengarungi kehidupan di
dunia.

Ada contoh kasus. Seorang anak lulusan satu Pesantren unggulan yang bermutu
tinggi, hafal al-Quran 30 juz dan juga menguasai ilmu-ilmu Ilmu Pengetahuan
Alam dengan baik. Setelah diterima di satu perguruan tinggi terkenal di
Yogyakarta, si anak kesulitan megembangkan ilmu-ilmu keislaman yang sudah
dikuasainya saat belajar di pesantrennya.

Islamisasi Ilmu bukan sesuatu yang utopis, sebagaimana dibayangkan oleh
sebagian kalangan, sehingga ada yang ketakutan dengan istilah “Islamisasi”.
Ketika suatu institusi Pendidikan melabeli dirinya dengan kata “Islam”,
atau menyatakan dirinya sebagai lembaga pendidikan Islam, maka  saat itulah
ia berkewajiban meloakukan proses Islamisasi yang terus-menerus, sehingga
lembaganya menjadi semakin Islami.


*Apanya yang harus Islami?*

Tentu saja, yang harus Islami adalah pemikiran dan perilaku pimpinan dan
dosen-dosennya terlebih dahulu. Sebab, mereka adalah guru, yang – dalam
bahasa Jawa – artinya wajib “digugu” dan “ditiru”. Dosen harus menjadi
teladan bagi mahasiswa, dalam hal keilmuan, ibadah,  dan akhlak. Jika hal
itu belum tercapai, maka perlu dilakukan proses Islamisasi!

Selain itu, tentu saja, Islamisasi harus mencakup kurikulum pendidikannya.
Jika masih ada diantara kurikulum yang diajarkan mengandung muatan-muatan
pemikiran secular atau liberal – misalnya – maka hal itu wajib diluruskan
dan di-Islamkan. Jika tidak bisa dilakukan proses Islamisasi, maka kurikulum
sekular itu harus dibuang, atau minimal dibahas untuk dikritisi dengan
perspektif Islam.

Misalnya, kurikulum tentang sains kealaman (*natural sciences*), seharusnya
dikaitkan dengan konsep tauhid dan sejarah sains Islam.  Sebab, objek studi
kajian ilmu ini adalah “ayat-ayat Allah”.  Jika metode belajar sains itu
Islami, maka pengajaran sains harusnya mengarahkan mahasiswa untuk semakin
mengenal sang-Pencipta (ma’rifatullah) dan mendorong mereka semakin taat
kepada Allah.  Jika pelajaran sains semakin menjauhkan mahasiswa dari
Allah,  – misalnya hanya diarahkan untuk eksploitasi alam semata-mata --
itu sama saja menjerumuskan manusia ke derajat binatang, bahkan lebih rendah
lagi. (QS 7:179).

Disamping itu, pelajaran sains perlu dikaitkan dengan sejarah sains itu
sendiri, yang selama ini tidak memperkenalkan prestasi para ilmuwan Muslim.
Sejarah sains itu perlu disampaikan dengan jujur, sehingga diharapkan dapat
menanamkan sikap “izzah”   (pride) pada diri mahasiswa Muslim. Mereka perlu
paham, bahwa Islam adalah sebuah peradaban yang pernah memimpin dunia dalam
bidang sains, beratus tahun sebelum dunia Barat kemudian mengambil alih
prestasi kaum Muslim tersebut. Islam bukan hanya mimpi dan utopia, tetapi
sebuah konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan: pribadi, keluarga,
masyarakat, dan kenegaraan.

Itu memang masa lalu.  Ini bukan soal romantisisme. Tetapi, masa lalu memang
teramat penting untuk memberikan perspektif tentang masa depan.  Semua
bangsa menengok masa lalu untuk merumuskan masa depannya. Inilah yang
disebut sejarah. Bangsa Barat mengenalkan masyarakat mereka dengan masa
lalu, agar mereka bangga dengan peradaban mereka di masa Yunani dan Romawi.
Bangsa China, hingga kini, terus menggalakkan masyarakatnya agar tidak
melupakan nilai-nilai masa lampau mereka. Begitu juga bangsa India, Jepang,
dan sebagainya.

Kita, kaum Muslim di Indonesia, juga diarahkan untuk membangga-banggakan
masa lalu kita. Hanya saja, sebagai Muslim, kita dipaksa untuk membanggakan
zaman Majapahit di masa Gajah Mada. Mitos kebesaran Majapahit di zaman Gajah
Mada itulah yang harus kita banggakan.  Lalu, dimana letaknya kejayaan Islam
di Indonesia?  Kita – secara halus – diajari bahwa tidak ada yang bisa
dibanggakan dari Islam! Islam tidak menghasilkan Borobudur dan Prambanan
yang menjadi kebanggaan dunia. Maka, dampaknya, bangsa kita dilarang
menonjolkan Islam di mana-mana.

Begitu keluar dari pintu bandara internasional Soekarno-Hatta kita tidak
disambut oleh tulisan ayat-ayat al-Quran  atau foto-foto Masjid dan
Pesantren. Tapi, kita disambut oleh berbagai jenis patung!  Itulah
Indonesia!?  Memang, 87% penduduk Indonesia Muslim, tetapi diajarkan bahwa
Islam tidak pernah membawa kemajuan bagi bangsa ini.  Bahkan, Islamlah yang
menghancurkan kebesaran Majapahit!  Itulah yang diajarkan kepada kita,
kepada anak-anak kita sekarang di sekolah-sekolah, bahkan di madrasah dan
pondok pesantren!

Ironis sekali!  Sebuah bangsa Muslim terbesar berhasil dibelokkan dari
sejarahnya sendiri, sehingga bangsa Muslim ini tidak merasa sebagai bagian
dari umat Islam, dan merasa tidak perlu untuk melanjutkan proses Islamisasi
di Kepulauan Nusantara. Akibatnya,  kaum Muslim dijauhkan dari rasa memiliki
bangsa ini. Lihatlah, hingga kini, mungkin jarang sekali ada masjid atau
Majlis Ta’lim yang secara sengaja merayakan Peringatan Kemerdekaan RI setiap
tanggal 17 Agustus. Sebab, sudah dijejalkan di kepala kita, sejak sekolah di
SD,  yang namanya memperingati kemerdekaan itu hanya dilakukan dengan
Upacara Bendera. Padahal, kemerdekaan RI adalah buah dari perjuangan fi
sabilillah yang dilakukan para pejuang kemerdekaan.

Sebenarnya, banyak sejarawan yang sudah mencoba meluruskan pengajaran
sejarah di sekolah-sekolah.  Sebab, faktanya tidaklah seperti itu. Di
kawasan Nusantara ini, Islam telah menorehkan goresan tinta emas dalam upaya
kebangkitan intelektual.  Sebagai contoh, apa yang pernah ditulis oleh
seorang wartawan senior Rosihan Anwar.

Nama Rosihan Anwar (1922-2011), tidaklah terlalu identik dengan sosok
seorang tokoh Islam, seperti Moh. Natsir, Prof. Hamka, KH Ahmad Dahlan, KH
Hasyim Asy’ari, dan sebagainya. Rosihan Anwar lebih dikenal sebagai wartawan
senior yang hidup di beberapa  zaman: kolonial Belanda, pendudukan Jepang,
Kemerdekaan Indonesia, dan pasca Kemerdekaan. Ia pun sempat menyaksikan naik
turunnya rezim-rezim penguasa di Indonesia, dari Soekarno sampai Soesilo
Bambang Yudhoyono.

Meskipun begitu,  membaca sebuah bukunya yang berjudul Jatuh Bangun
Pergerakan Islam di Indonesia (1971), tidak dapat dipungkiri, ada sejumlah
gagasan “Islamisasi” pemahaman sejarah Indonesia, yang menarik untuk
disimak. Kamis (4/8/2011), saya diminta menjadi salah satu pembahas buku
yang kembali diterbitkan oleh Fadli Zon Library. Pembahas lain, Prof. Dr.
Taufik Abdullah, sejarawan senior LIPI.

Buku ini sejatinya merupakan kumpulan surat/nasehat Rosihan Anwar kepada
putrinya, Aida Fathya. Simaklah sebagian kutipan nasehat Rosihan kepada
putrinya tersebut:

“J.M. Pluvier menamakan Islam sebagai suatu pra-nasionalisme di Nusantara.
W.F. Wertheim pun melihat peran Islam sebagai gerakan pra-nasionalisme.
Bahkan Rupert Emerson dan Fred von der Mahden melihat adanya interrelasi
antara hubungan agama dengan nasionalisme di Burma dan Indonesia. Gerakan
kebangsaan di Burma dipelopori oleh Young Men’s Buddhist Association, begitu
juga gerakan nasionalisme Indonesia yang dipelopori oleh orang-orang Islam.
Budi Utomo memang merupakan sebuah gerakan nasionalis, sama seperti
Nationale Indische Partij yang dipimin Douwes Dekker alias Dr. Setia Budi,
tetapi gerakan-gerakan itu kecil. Dan, SI-lah gerakan kebangsaan-keagamaan
yang pertama dengan anggota-anggotanya yang mencapai 2 juta orang ada saat
itu, dan mempunyai organisasi massa yang berakar di kaum petani atau apa
yang dinamakan George Kahin “the first peasant-based mass organisastion.
Inilah yang harus kau ingat selalu, Aida Fathya, bahwa pelopor gerakan
nasionalisme yang menentang kolonialisme dan imperialisme Belanda ialah
Islam.”

Meskipun buku ini tidak terlalu mendalam dan terperinci membahas tentang
sejarah perkembangan Islam di Indonesia, tetapi buku ini mengungkap
percikan-percikan fakta sejarah pergerakan nasional Indonesia yang
dipelopori oleh para tokoh dan organisasi Islam. Rosihan membawakan pesan
penting bagi bangsa Indonesia, bahwa Islam adalah pelopor kebangkitan
nasional dan pelopor dalam pembebasan Indonesia dari belenggu penjajahan.

Itu pesan penting dari Rosihan Anwar. Dan pesan itu memiliki nilai yang
sangat berarti, sebab – tidak dapat disangkal – para sejarawan dan
tokoh-tokoh Islam Indonesia telah banyak mengungkapkan kejanggalan penulisan
dan pengajaran sejarah di Indonesia, khususnya yang terkait dengan Islam. Di
sana-sini, secara sistematis, ditemukan upaya untuk mengecilkan peran Islam
dalam sejarah kebangkitan dan kemerdekaan Indonesia.

Pada catatan yang lalu, kita pernah mengutip tulisan Buya Hamka  dalam
Tafsir al-Azhar: “Diajarkan secara halus apa yang dinamai Nasionalisme, dan
hendaklah Nasionalisme diputuskan dengan Islam. Sebab itu bangsa Indonesia
hendaklah lebih mencintai Gajah Mada daripada Raden Patah. (Lihat, Hamka,
Tafsir al-Azhar -- Juzu’ VI, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1984), hal. 300.)

Cobalah tanyakan kepada anak-anak kita sekarang, apakah mereka mengenal
Raden Patah, Raja Muslim Pertama di Tanah Jawa? Raden Patah adalah putra
Raja Majapahit, yang sekaligus santri dari Sunan Ampel.  Tanyakan kepada
para siswa di sekolah-sekolah Islam, apakah mereka mengenal dan mengagumi
Sultan Agung yang mengirimkan para tentaranya dari Yogyakarta ke Jakarta
untuk mengusir penjajah Portugis?

Tapi, kita dan anak-anak kita terus dicekoki sebuah cerita bahwa Nusantara
pernah disatukan oleh Gajah Mada. Bahwa Kerajaan Hindu itulah yang berhasil
menyatukan Nusantara. Lalu, setelah itu, datanglah Kerajaan Islam dengan
Raja-nya Raden Patah dan didukung para Wali Songo, untuk meruntuhkan
Kerajaan Majapahit.  Opini yang ingin disampaikan kepada anak-anak kita
tampaknya:  “Islam datang untuk menghancurkan kejayaan Indonesia yang sudah
berhasil dibangun oleh Majapahit!” Sebab, setelah itu -- sebagaimana
digambarkan dalam buku pelajaran Sejarah --  muncul Kerajaan-kerajaan Islam
yang tidak pernah berhasil menjelma menjadi Kerajaan Nasional, sebagaimana
Sriwijaya dan Majapahit. Jadi, Islam digambarkan sebagai faktor yang tidak
kondusif sebagai ”pemersatu Indonesia”. Dengan kata lain, Indonesia hanya
bisa disatukan bukan dengan Islam, tetapi dengan ideologi lain, apakah
ateisme, animisme, atau sekularisme.

Padahal, coba tanyakan kepada mereka, kapan Majapahit benar-benar berhasil
menyatukan Nusantara; wilayahnya sampai dimana; dengan cara apa Majapahit
menyatukan Nusantara.  Katanya, Gajah Mada pernah bersumpah, namanya Sumpah
Palapa! Apakah sumpah seseorang bisa dijadikan bukti bahwa dia berhasil
mewujudkan sumpahnya? Prof. C.C. Berg, termasuk sejarawan yang mengkritik
upaya pengkultusan dan pemitosan kebesaran Majapahit. Ia menulis sebuah
artikel di Jurnal Indonesiė, Maret 1952, No. 5, berjudul ”*De Sadeng-oorlog*
* en de mythe van Groot-Majapahit” *(Perang Sadeng dan Mitos Kebesaran
Majapahit).

Mitos kebesaran dan keruntuhan Majapahit banyak dikisahkan dalam Kitab
anonim Darmagandul yang isinya meratapi keruntuhan Majaphit dan mencerca
para penyebar Islam di Tanah Jawa (Wali Songo).   Serat ini begitu
menggebu-gebu menyerang Islam dan mengharapkan orang Jawa berganti agama,
dengan meninggalkan Islam. Ditulis, misalnya: "*Wong Djawa ganti agama, akeh
tinggal agama Islam bendjing, aganti agama kaweruh, *....(Artinya: Orang
Jawa ganti agama, besok banyak yang meninggalkan Islam, berganti (menganut)
agama kaweruh ...).  Juga ditulis: "*Kitab Arab djaman wektu niki, sampun
mboten kanggo, resah sija adil lan kukume, ingkang kangge mutusi prakawis,
kitabe Djeng Nabi, Isa Rahullahu." *(Artinya: Kitab Arab jaman waktu ini,
sudah tidak terpakai, hukumnya meresahkan dan tidak adil, yang digunakan
untuk memutusi perkara adalah kitab Kanjeng Nabi Isa Rahullah). (Lihat,
Anonim. Darmagandul. Cetakan IV. (Kediri: Penerbit Tan Khoen Swie, 1955).

Fakta pengajaran sains dan sejarah di sekolah-sekolah semacam itu,
seharusnya menjadi perhatian serius dari Perguruan Tinggi Islam (PTI).
Sebab, tugas utama PTI memang melahirkan sarjana-sarjana yang memahami ilmu
agama dan kondisi kontemporer sekaligus. Itulah yang disebut program
Islamisasi. Karena itu, lokakarya “Islamisasi Ilmu” yang dilakukan untuk
para pejabat struktural Kampus UIKA Bogor dapat dijadikan salah satu contoh
yang baik.

Lokakarya di UIKA itu sangat istimewa. Sebab,  “peniup peluit” pertama
Islamisasi Ilmu di UIKA, yaitu Prof Dr Ir AM Saefuddin dengan setia
menunggui acara itu, dari pagi hari sampai berakhirnya acara di sore
harinya. Pak AM – begitu dia biasa dipanggil – berharap agar UIKA Bogor bisa
menjadi salah satu kampus tempat bersemainya gagasan Islamisasi Ilmu yang
sudah dia gulirkan 28 tahun sebelumnya.  Amin.**/Depok, 23 Ramadhan 1432
H/23 Agustus 2011.*


Lokakarya Islamisasi Ilmu di UIKA
Wednesday, 24 August 2011 04:38
Oleh: Adian Husaini

0 comments:

Post a Comment

Terimakasih telah membaca,

Semoga perjumpaan kali ini berkesan di hati sahabat-sahabat sekalian, silahkan diambil manfaatnya, serta dibawa pulang oleh-oleh pelajaran dan ilmunya. :)

Jika ingin meninggalkan jejak dan ingin mengirimkan komentar, Silahkan isi kotak komentar di bawah ini...

Mario Teguh's Quotes

Quotes

Blogger Jogja

Twitter

Googlebot

SEO Monitor

Traffic Exchange

EasyHits4U.com - Your Free Traffic Exchange - 1:1 Exchange Ratio, 5-Tier Referral Program. FREE Advertising!

Wibiya Widget


Wibiya provides a web toolbar that enables blogs and websites to integrate the most exciting services and web applications into their blog or website.